Cerita ini berawal pada tanggal 27 January 2012, hari
Jum’at. Ketika aku berpikir dan mulai bergerak bahwa aku harus lebih giat untuk
mengejar masa depanku. Ketika asa itu menjadi kekuatanku untuk membuktikan pada
orangtuaku bahwa aku bisa menjadi sukses bahkan lebih lagi dari mereka.
-ooOOoo-
Sore itu, aku sedang menjenguk temanku yang sedang sakit
dikamar atas. Aku menguatkannya dan memberikannya semangat bahwa ia akan segera
sehat. Sekitar 1jam aku berada dikamarnya, menungguinya. Isya menjelang, saatnya
untuk pergi ke masjid shalat berjamaah. Entah, saat itu aku sedang tidak ingin
ke masjid. Aku masih ingin terus berkumpul dengan teman-temanku sambil
menunggui yang sakit.
Setengah jam berlalu, aku pun kembali kekamar untuk
melaksanakan shalat. Aku pun mengambil wudhu. Aku mulai shalat, khusyu. Tepat
pada rakaat ketiga, aku merasa pusing, mual dan sebagainya. Aku tetap berusaha
untuk merampungkan shalatku terlebih dahulu. Dengan susah payah aku pun terus
melanjutkan shalat. Setelah salam, aku langsung terkapar. Rasanya berat sekali,
bahkan hanya untuk memanggil temanku.
Salah satu temanku ada yang menyadari bahwa ada yang tidak
beres denganku. Teman-temanku kamarku pun langsung menanyai apa yang terjadi
denganku. Aku sendiri bingung dan bertanyatanya apa yang sebenarnya terjadi,
mengapa begitu mendadak. Aku seperti
takut pada sesuatu yang akupun tidak tahu itu apa. Aku seperti merasakan bahwa
aku kehilangan sesuatu yang teramat sangat berharga.
Teman teman langsung memanggil bunda ke kamarku. Aku diberi
minum dan makan. Bunda dan teman-temanku selalu menungguiku hingga aku
tertidur.
-ooOOoo-
Belaian itu membangunkanku, entah jam berapa. Tetapi saat
itu gelap dan teman- teman tertidur lelap. Aku bingung mengapa ada uwa aku
disini. Ketakutan langsung menyergapku, khwatir sesuatu yang buruk terjadi.
Bunda mengatakan bahwa uwa aku akan membawaku pulang, untuk
dibawa ke dokter. Padahal aku merasa bahwa aku tidak perlu dibawa kedokter.
Tetapi uwa tetap tidak mau pergi jika aku tidak ikut bersamanya. akhirnya aku pun
menurut dengan membawa barang seperlunya. Salah satu temanku bangun,
memberikanku semangat.
Diperjalanan, aku tidak bisa tidur meskipun uwa menyuruhku
tidur. Aku merasa waswas, takut, gelisah dan khwatir. Aku seperti ingin
menangis, menangis sejadinya.
Sekitar perumahanku, aku melihat diteras rumahku ramai oleh
orang. Aku semakin takut, entah apa yang terjadi. Setelah keluar darui pintu
mobil, aku langsung berteriak histeris, menangis dan meraung. Tubuhku lemah,
aku seperti tidak bisa berpijak lagi. Rasanya seperti, entahlah aku tidak bisa
mengutarakannya. Semua yang ada disitu langsung membopongku, membawa aku
kedalam rumah.
Aku seperti merasakan kiamat sedang terjadi pada keluargaku.
Mamahku menguatkan aku, meskipun aku tahu bahwa beliaupun pasti sama sepertiku.
Aku ingin marah, tapi haru kepadaku siapa ? aku ingin ada yang bertanggung
jawab atas ini semua, tapi siapa ? siapa yang bisa mengulang waktu, hah ?
Papaku terbaring kaku diruang tengah rumahku. Aku ingin
memeluknya, meyakinkan bahwa pasti Papa akan bangun lagi. Aku yakin itu!
Orang orang berdatangan kerumahku, menyemangamati orang
orang yang ditinggalkannya. Jam-jam berlalu seperti tiada ampun. Kakak-kakakku
pun berdatangan, menangis dan histeris, sama sepertiku tadi. Saatnya pemakaman,
kakakku melarangku untuk ikut. Tapi aku teteap memaksa, aku ingin melihat Papa
untuk yang terkhir kali. Meskipun aku tahu aku tidak akan kuat untuk
melaluinya.
-ooOOoo-
Berminggu-minggu aku dirumah. Selalu menguatkan diriku
sendiri bahwa ini semua pasti ada hikmahnya, bahwa ini semua pasti terbaik
untukku dan keluargaku.
Dan, aku sadar bahwa Allah pasti akan memudahkan segala urusan kalau
aku bersabar dan bersyukur. Allah tidak pernah meninggalkanku, bahkan Allah
selalu menuntunku untuk meraih cintaNya. Allah always stay by my side.
Cerita ini belum berakhir, karena aku akan terus berusaha
untuk meraih masa depanku yang cemerlang. Dan membanggakan Mama dan almarhum
Papaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar